Kamis, 21 Maret 2013

Harga Bawang Anjlok, Petani Merugi

CIREBON. Petani bawang di seputaran Cirebon kecewa. Penyebabnya tak lain dan tak bukan karena anjloknya harga bawang yang merupakan komoditas andalan petani Kabupaten Cirebon.
Rogayah, petani bawang asal Pangenan misalnya, menuturkan bahwa harga bawang saat ini menyentuh level terendah, yakni Rp 3.000 per kilogram.
“Saya pikir harga bawang bakal naik menjelang Ramadhan. Tetapi  malah semakin turun. Bulan Mei lalu Rp 5.000 per kilogram, sekarang turun lagi menjadi Rp 3.000 per kilogram. Sedih sekali rasanya mengingat saat membeli bibit bawang harganya Rp 20.000 per kilogram. Para pedagang beralasan bahwa sekarang stok bawang banyak sehingga harga bawang murah,” tutur Rogayah (31/07).
“Bawang menjadi bumbu wajib yang harus dibeli untuk bahan masakan. Anehnya mengapa bawang turun dan harganya rendah sekali, walaupun terkadang harganya naik,” tambahnya.
Mae Azhar, Ketua Badan Pelaksana Cabang (BPC) Serikat Petani Indonesia (SPI) Kabupaten Cirebon mengungkapkan bahwa turunnya harga bawang menjelang Ramadhan berbarengan dengan panen raya di sentra bawang.  Selain itu dia berpendapat bahwa membanjirnya bawang impor adalah salah satu penyebab anjloknya harga bawang lokal.

“Izin masuknya adalah impor bawang merah untuk bibit. Tetapi kenyatannya untuk dikonsumsi juga. Ini permainan kotor pedagang besar sehingga harga bawang lokal amblas,” katanya.
Azhar juga menjelaskan bahwa bawang impor dibawa dengan menggunakan puluhan kontainer yang disimpan sekitar daerah Losari, Kab. Cirebon dan di Jalan Pantura Kelempok, Kab. Brebes, Jateng. Dari dua gudang inilah bawang merah yang ukurannya lebih besar dan sangat berbeda dengan bawang lokal ini didistribusikan oleh truk kecil ke pasar-pasar.

Februari lalu, harga bawang di pasar tradisional mencapai Rp 19.000 per kilogram yang merupakan nilai cukup tinggi dan menguntungkan petani. Namun pada saat yang bersamaan ribuan ton bawang impor Filipina masuk dari Pelabuhan Tanjung Priok yang diangkut dengan kontainer menuju Losari dan Brebes.
“Bawang Filipina dari segi penampilan dan jumlah lebih unggul. Sedangkan bawang merah lokal penampilannya tidak terlalu besar. Akibatnya harga bawang lokal tertekan,” jelasnya.
Azhar menambahkan bahwa petani sekarang rugi dua kali lipat karena saat musim tanam awal mereka membeli bawang seharga lebih kurang Rp 28.000 per kilogram. Walau terjadi peningkatan hasil panen tetap tidak mengejar biaya produksi yang membengkak.
“Februari tinggi sekali harganya sampai Rp 19.000. Bahkan harga bibit Rp 25.000/kg. Ketika panen seperti sekarang harga jual bawang hanya Rp 3.000 per kilogram,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Achmad Ya’kub, Ketua Departemen Kajian Strategis Nasional SPI mengungkapkan bahwa pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian seharusnya punya mekanisme tata niaga soal bawang.
“Jadi sederhana saja, ketika suplai banyak jangan dirusak harganya dengan masuknya bawang impor. Ini bukan jual beli biasa, tapi sudah masuk unsur-unsur spekulasi perdagangan yang korban pertamanya adalah petani karena anjloknya harga dan kemudian konsumen karena tidak ada kepastian harga,” tuturnya.
Ya’kub juga menambahkan bahwa pemerintah melalui Kementerian Perindustrian dan Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) mendorong teknologi pengolahan bawang pasca panen, sehingga terbangun industri di pedesaan dan tidak hanya menjual bawang merah mentah sehingga ada nilai tambah yang dinikmati oleh masyarakat desa.
(Dikutip dari DPP-SPI)

Importasi Bawang Bukan Solusi, Tetapkan HPP Produk Pertanian

JAKARTA. Opini yang menyebutkan tingginya harga bawang putih dalam beberapa waktu terakhir di Indonesia akibat tidak bisa impor adalah kekeliruan.Menurut Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SP) Henry Saragih, permasalahan mendasarnya tidak terletak pada soal importasi.
Henry menjelaskan, seharusnya pemerintah sudah dari jauh-jauh hari menetapkan grand design nasional soal pembangunan pertanian dan pangan yang mengatur mulai dari tata kepemilikan lahan bagi petani (maksimal dan minimalnya) melalui PPAN, cara produksinya yang terkait benih dan bibit berkualitas baik, model produksinya secara agroekologis, penanganan pasca panen, hingga distribusi dan kebijakan tata niaga pangan yang harus terus diperbaiki.

“Oleh karena itu bagi SPI bukannya kemudahan impor yang harus dilakukan. Pemerintah seharusnya juga melakukan kendali harga dengan menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Namun, hingga kini hanya beras yang punya HPP, sedangkan untuk gula pemerintah hanya punya harga patokan. Ketidakpastian harga juga membuat petani beralih menanam yang lain, akibatnya pasokan bawang terganggu. Dan yang tidak bisa dipungkiri adalah akibat terjadinya oligopoli atau kartel pada perdagangan pangan yang berakibat, negara tidak lagi dapat mengontrol harga,” ungkap Henry di Jakarta (19/03).

Mengenai penyebab harga bawang yang berfluktuasi, Henry menilai hal ini terjadi karena beberapa hal seperti gagal panen akibat guyuran hujan, banjir dan pasangnya air laut (seperti di Brebes, namun ketika panen berlimpah, bisa dipastikan harga langsung jatuh). Penyebab lainnya adalah akibat masuknya bawang (merah) impor ke pasar (misalnya ketika petani Brebes panen bawang merah, bersamaan dengan itu pula masuk bawang merah impor dari Philipina, India, China ke pasar bawang merah Brebes melalui pelabuhan Cirebon). Misalnya saat bawang merah impor melimpah di pasaran di Januari 2012, harga komoditas itu anjlok Rp 3.000 sampai Rp. 2000 per kilogram untuk eceran dengan kualitas yang baik dari harga sebelumnya Rp. 7.000/kg. Sementara modal  tanam petani mencapai Rp 5.500 per kilogram.
Jumala, petani bawang putih anggota Serikat Petani Indonesia (SPI) asal Sembalun, Nusa Tenggara Barat menyampaikan dia terakhir menjual bawang putih kering ke pedagang di akhir Februari 2013 seharga Rp 15.000 per kilogramnya. Menurutnya harga lima belas ribu rupiah itu adalah harga yang tertinggi, sehingga dia menjual semua stok bawang putihnya dan hanya menyisakan untuk bibit.

“Waktu itu masa panen, karena harga tinggi saya jual semua bawang putih saya karena takut harga kembali turun. Tingginya harga bawang putih di satu sisi memang menguntungkan petani, namun di sisi lain justru memberatkan, soalnya harga pembelian bibit juga menjadi tinggi. Oleh karena itu kami meminta pemerintah untuk menjamin dan menetapkan harga produk pertanian yang menguntungkan kami petani dan tidak memberatkan konsumen. Untuk bawang putih basah, idealnya di harga Rp 7.000 dan bawang putih kering di harga Rp 15.000 – Rp 20.000 per kilogramnya,” papar Jumala yang dihubungi melalui telepon.
Henry juga menggarisbawahi mengenai mendesaknya pembentukan kelembagaan pangan sesuai mandat UU No.18/20112 tentang pangan. Koordinator Umum La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional) ini memaparkan, kelembagaan pangan inilah yang harus dibuat segera dengan kewenangan mulai dari produksi, distribusi dan tata niaga,

“Kelembagaan pangan ini nantinya akan memiliki kewenangan memberikan perlindungan dan insentif bagi produsen pangan kecil atau petani-petani kecil; mengendalikan importasi; memberikan jaminan dan perlindungan harga produksi petani, yang layak dan menguntungkan juga bagi konsumen, mencegah kartel dan spekulasi; membuat kejelasan dan roadmap soal kecukupan produksi, cadangan pangan dan peta serta data pangan yang akurat; hinggamengkordinasikan lembaga-lembaga dan kementerian terkait pencapaian kedaulatan pangan. Namun lembaga pangan tersebut harus mempunyai satu fungsi pelayanan publik saja, bukan dualisme antara fungsi public service obligation dan komersial atau bisnis sebagaimana yang diterapkan oleh Bulog selama ini.” paparnya.

Henry menambahkan, ketersediaan lahan pertanian juga adalah faktor utama agar Indonesia mampu berdaulat pangan dan tidak lagi mengandalkan impor.
“Bagaimana mau bertani kalau lahannya saja tidak ada. Oleh karena itu kami juga mendesak Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk segera mendata dan membagikan lahan terlantar bagi petani tak bertanah, sesuai dengan program PPAN yang dicanangkan pemerintah SBY yang berjanji membagikan 7,2 juta Ha tanah, pembaruan agraria sejati,” tambahnya.
(Dikutip dari DPP-Serikat Petani Indonesia).

GAPOKTAN MEDAN JOHOR PERINGATI HUT KE 3


Medan,22-03-2013 (LP2KP)
Kepala Dinas Pertanian Sumut turut menghadiri acara HUT Gapoktan Medan Johor
Minggu 17 Maret 2012 bertempat di Sekretariat P4S Tani Kreatif Jl.Eka Rosa Medan Johor, berlangsung acara puncak peringatan Hari Ulang Tahun Gapoktan Medan Johor ke 3. Acara puncak ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya. Berbagai kegiatan berkaitan dengan peringatan hari ulang tahun ini diantaranya adalah;
Tumpeng untuk HUT Gapoktan Medan Johor ke 3
1) Lomba mewarnai untuk tingkat anak-anak TK dan SD. Temanya adalah tentang pertanian,sawah.ladang
2) Lomba memasak nasi goreng sehat untuk para Suami dari Petani Perempuan Perkotaan
3) Lomba merancang Orang-orangan Sawah untuk anggota Gapoktan dan juga diikuti kelompok mahasiswa yang tengah melakukan program magang di Gapoktan Medan Johor dan P4S Tani kreatif.
4) Gerak jalan Sehat untuk keluarga Tani perkotaan
5)  Diskusi "Pangan Sehat Untuk Rakyat" yang diikuti oleh seluruh anggota Gapoktan Medan Johor, P4S Tani kreatif, KKPP. Kegiatan diskusi ini diselenggarakan atas kerjasama BKP Sumatera Utara, Gapoktan Medan Johor, P4S Tani Kreatif,KKPP,DPW-SPI dan LP2KP Medan.
Kadistan Sumut berikan Kata sambutan
Acara puncak peringatan Hari Ulang Tahun ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Sumatera Utara mewakili Gubernur Sumatera Utara yang tidak bisa hadir karena sedang menghadiri acara diluarkota. Pada kesempatan itu pula diserahkan beberapa hadiah kepada para pemenang lomba. Dalam kesempatan itu Kepala Dinas Pertanian Sumatera Utara menghimbau agar kegiatan-kegiatan yang selama ini dilakukan oleh Gapoktan Medan Johor untuk terus dikembang dan diperluas. Beliau juga menyampaikan selamat ulang tahun sekaligus berkenan melakukan pemotongan tumpeng sambil berdialog dengan para hadirin.

Berpose bersama Kadistan SU
Turut memberikan kata sambutan Ketua LP2KP sebagai perwakilan organisasi-organisasi mitra Gapoktan Medan Johor,KKPP,P4S Tani Kreatif. Dalam kata sambutannya,beliau mengajak Gapoktan Medan Johor,P4S Tani Kreatif dan KKPP untuk terus bekerjasama meningkatkan pendidikan dan pelatihan bagi para anggota Gapoktan Medan Johor dan P4S Tani Kreatif khususnya dalam bidang pertanian perkotaan. Beliau juga mendorong untuk menjadikan tema Pangan Sehat yang sudah diangkat dalam diskusi itu sebagai awal dari Gerakan Pangan Sehat di kota Medan dan Medan Johor menjadi wilayah percontohan.
Ketua LP2KP berkesempatan menyerahkan hadiah
Dalam kesempatan itu ketua Gapoktan Medan Johor menyampaikan ucapan terimakasih kepada Dinas Pertanian Sumatera Utara, BKP dan jajarannya serta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Kota Medan dan Kecamatan Medan Johor dan Kelurahan Gedung Johor yang selama ini telah banyak membantu kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Gapoktan Medan Johor.

Acara yang diliput oleh RRI Sumatera Utara ini berlangsung sederhana namun tidak mengurangi arti dan makna serta tekad Gapoktan Medan Johor untuk meneruskan program pertanian perkotaannya dan terus memperluas prgram-program lainnya.